Thursday, March 26, 2009

MACC is doing a good job! YAY!

MACC and police monitor for last minute vote buying
Tim Leonard

KUALA LUMPUR (March 26, 2009) : The Malaysian Anti-Corruption Commission (MACC) and the police were present to monitor any possible last-minute attempts to buy votes at the Umno 2008 AGM and Elections today.

theSun earnt that MACC sent a couple of officers to monitor the situation on the ground at the Putra world Trade Centre (PWTC) while private eyes were stationed to keep their eyes and ears opened to offers and acceptance.

A MACC official said officers were mainly conducting intelligence surveillance.

“Our men are undercover and what better way to learn of any possible corrupt practices than to be on the ground,” said the official.

The private eyes were patrolling in several teams based on their tasks.

A police source said one team of detectives were assigned to monitor the delegates and track any “suspicious” movements of delegates, especially those placed on a “high-priority” list.

He, however, declined to reveal who were the ones on the high-priority list as the information was classified.

“The other team is stationed to look out for any trouble or mishaps,” said the source, adding that quick-thinking detectives alerted the headquarters for backup to defuse a dangerous situation last night when supporters of two candidates almost traded blows.

“When we have the right information, we can act or react fast,” said the source, who has been a detective for about 20 years.


Updated: 04:14PM Thu, 26 Mar 2009
Printable Version | Email to a Friend


DO YOU SEE THE POINT TO THIS? = ) MACC NEEDS OWN EVIDENCE BEFORE THEY CAN PROCEED REGARDLESS THAT A PARTY DISCIPLINARY BOARD HAVE FOUND EVIDENCE TO SAY 'GUILTY AS CHARGE'.

Ali’s bid scuttled

Reports by SAO’DAH ELIAS, MUGUNTAN VANAR, MAZWIN NIK ANIS, SARBAN SINGH, MARTIN CARVALHO, ROYCE CHEAH, CHAN LI LEEN, YENG AI CHUN, LESTER KONG, IVAN LOH and NURBAITI HAMDAN


Ali Rustam out of party race
Ali to remain as Chief Minister

KUALA LUMPUR: Datuk Seri Mohd Ali Rustam’s bid for Umno’s number two post has come to a premature end when he was barred from contesting by the party’s disciplinary board.

However, his positions and membership in the party is not affected and he remains as the Malacca Chief Minister and Umno vice-president.

Mohd Ali was found guilty of breaching the party’s ethics.

Also found guilty of the same offence by the board was Rembau MP Khairy Jamaluddin who is contesting the Umno Youth chief post but he was let off with only a warning.

The list: Rithauddeen showing the list of the names during the disciplinary meeting at the Umno building Tuesday.

Another contender for the post Datuk Seri Dr Mohd Khir Toyo who was investigated by the board for money politics was found not guilty.

Mohd Ali, who is said to be one of the stronger contender in the three-cornered contest for the number two post was found guilty under Article 10.1 of the party’s code of ethics, whereby he was presumed guilty for the actions of third parties.

Three of his agents who included his political secretary Saadun Basirun were found guilty of vote buying and have been suspended for three years or one term.

The other two other are a committee member of Bukit Katil Umno division Rosli Hasan and its Puteri wing deputy head Zalina Ismail.

Disciplinary board chairman Tengku Tan Sri Ahmad Rithaud­deen Tengku Ahmad said 29 people were investigated by the panel and 15 were found guilty and the others were cleared.



Wednesday, March 11, 2009

IN THE NAME OF ALLAH!

i had the oppurtunity to study under the tutelage of Dr.Asri while i was in USM, he was teaching Munakahat and being the young person that he is it was ALOT OF FUN. learning was never boring with him. :P

so in regards to the lastest hoo haa by our beloved government, i hope this would help to understand why some learned scholars just can't be bothered with the hype 'cause they know more than we do. and its about time that we take the time to know about it as well ..

Banyak pihak mendesak saya memberikan pandangan tentang penggunaan nama
Allah oleh agama lain khususnya agama Kristian di Malaysia ini. Pada awalnya,
saya selalu mengelak, cuma memberikan pandangan ringkas dengan berkata: “Isu ini
bukan isu nas Islam, ianya lebih bersifat pentadbiran atau
tempatan.
Peraturan ini mungkin atas alasan-alasan setempat seperti kenapa
sekarang baru ditimbulkan isu ini? Kenapa hanya Bible dalam bahasa melayu sahaja
yang hendak menggunakan panggilan Allah, tidak pula edisi inggerisnya? Adakah di
sana ada agenda tersembunyi? Maka wujudnya tanda soal dan beberapa prasangka
yang mungkin ada asasnya. Maka lahirlah kebimbangan terhadap kesan yang bakal
timbul dari isu itu nanti.
Namun, akhir-akhir ini saya terus didesak. Saya
kata: jika anda hendak tahu pendirian Islam bukanlah dengan falsafah-falsafah
tentang akar bahasa itu dan ini yang diutamakan. Rujuk terdahulu apa kata
al-Quran dan al-Sunnah. Lepas itu kita bincang hukum berkenaan bertitik tolak
dari kedua sumber tersebut.
Kadang-kala kesilapan kita dalam mempertahankan
perkara yang tidak begitu penting, boleh melupakan kita kepada isu yang lebih
penting. Isu yang terpenting bagi saya adalah kefahaman mengenai keadilan dan
kerahmatan Islam yang mesti sampai kepada setiap rakyat negara ini, muslim atau
bukan muslim. Supaya gambaran negatif yang salah terhadap Islam dapat dikikis
dari minda mereka yang keliru.
Di samping itu, hendaklah kita jelas bahawa
yang membezakan akidah Islam dan selainnya bukanlah pada sebutan, atau rebutan
nama Allah, sebaliknya pada ketulusan tauhid dan penafian segala unsur syirik.
Di samping, kita mesti bertanya diri kita: mengapakah kita sentiasa merasakan
kita akan menjadi pihak yang tewas jika orang lain memanggil tuhan Allah?
Mengapakah kita tidak merasakan itu akan lebih memudahkan kita menyampaikan
kepada mereka tentang akidah Islam?. Maka, apakah isu ini bertitik tolak dari
nas-nas Islam, atau kebimbangan disebabkan kelemahan diri umat Islam itu
sendiri?
Jika kita membaca Al-Quran, kita dapati ia menceritakan golongan
musyrikin yang menentang Nabi Muhammad s.a.w juga menyebut nama Allah dan
al-Quran tidak membantah mereka, bahkan itu dijadikan landasan untuk memasukkan
akidah Islam yang sebenar.
Firman Allah: (maksudnya) “Dan Demi sesungguhnya!
jika engkau (Wahai Muhammad) bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan
mereka?” sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah!”. (jika demikian) maka
bagaimana mereka rela dipesongkan? Dan (Dia lah Tuhan Yang mengetahui rayuan
Nabi Muhammad) yang berkata: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka ini adalah satu
kaum yang tidak mahu beriman!” (Surah al-Zukhruf ayat 87-88).
Firman Allah
dalam ayat yang lain: (maksudnya) “Dan sesungguhnya jika engkau (Wahai Muhammad)
bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: “siapakah yang menurunkan hujan dari
langit, lalu dia hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya?”
sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Ucapkanlah (Wahai Muhammad):
“Alhamdulillah” (sebagai bersyukur disebabkan pengakuan mereka yang demikian),
bahkan kebanyakan mereka tidak menggunakan akal (untuk memahami tauhid) (Surah
al-Ankabut ayat 63).
Ayat-ayat ini, bahkan ada beberapa yang lain lagi
menunjukkan al-Quran tidak membantahkan golongan bukan muslim menyebut Allah
sebagai Pencipta Yang Maha Agung. Bahkan Nabi Muhammad s.a.w disuruh untuk
mengucapkan kesyukuran kerana mereka mengakui Allah. Apa yang dibantah dalam
ayat-ayat ini bukanlah sebutan nama Allah yang mereka lafazkan, sebaliknya
ketidak tulusan tauhid yang menyebabkan akidah terhadap Allah itu dipesongkan
atau bercampur syirik.
Justeru, soal bukan muslim mengakui Allah tidak
dibantah oleh Islam, bahkan kita disuruh bersyukur kerana pengakuan itu. Cuma
yang dibantah ialah kesyirikan mereka. Umpamanya, jika kita mendengar bukan
muslim menyebut “Allah yang menurunkan hujan, atau menumbuhkan tumbuhan”, maka
kita tentu gembira kerana dia mengakui kebesaran Allah.
Apakah patut kita
kata kepadanya: awak jangan kata Allah yang menurunkan hujan, atau mencipta itu
dan ini, awak tidak boleh kata demikian kerana awak bukan muslim, sebaliknya
awak kena kata tokong awak yang menurun hujan”. Apakah ini tindakan yang betul?
Tidakkah itu menjauhkan dia dari daerah ketuhanan yang sebenar? Kita sepatutnya
berusaha mendekatkan dia kepada ajaran yang benar. Namun, jika dia berkata:
“Tokong ini adalah Allah”. Saya kata: “Awak dusta, itu tidak benar! Maha suci
Allah dari dakwaan awak”.
Maka, ketika Allah menceritakan peranan peperangan
dalam mempertahankan keamanan dan kesejahteraan manusia,
Allah menyebut:
(maksudnya) “..dan kalaulah Allah tidak mendorong setengah manusia menentang
(pencerobohan) setengah yang lain, nescaya runtuhlah tempat-tempat pertapaan
serta gereja-gereja (kaum Nasrani), dan tempat-tempat sembahyang (kaum Yahudi),
dan juga masjid-masjid (orang Islam) yang sentiasa disebut nama Allah
banyak-banyak dalam semua tempat itu dan sesungguhnya Allah akan menolong
sesiapa yang menolong ugamanya (ugama Islam); Sesungguhnya Allah Maha Kuat, lagi
Maha Perkasa. (Surah al-Hajj ayat 40).
Ayat ini mengakui tempat-tempat ibadah
itu disebut nama Allah. Adapun berhubung dengan orang Kristian,
Allah
menyebut: (maksudnya) “Sesungguhnya telah kafirlah mereka yang berkata:
“Bahawasanya Allah ialah salah satu dari yang tiga (triniti)”. padahal tiada
tuhan (yang berhak disembah) melainkan Tuhan Yang Maha Esa..(Surah al-Maidah
ayat 73).
Ayat ini tidak membantah mereka menyebut Allah, tetapi yang
dibantah adalah dakwaan bahawa Allah adalah satu dari yang tiga.
Justeru itu
kita lihat, orang-orang Kristian Arab memang memakai perkataan Allah dalam Bible
mereka, juga buku-buku doa mereka. Tiada siapa pun di kalangan para ulama kaum
muslimin sejak dahulu yang membantahnya. Jika ada bantahan di Malaysia, saya
fikir ini mungkin atas alasan-alasan setempat yang saya sebutkan pada awal tadi.
Cuma yang diharapkan, janganlah bantahan itu akhirnya memandulkan dakwah Islam
dan menjadikan orang salah faham terhadap agama suci ini.
Saya selalu
bertanya sehingga bilakah kita di Malaysia ini akan begitu defensive, tidak
memiliki anti-bodi dan tidak mahu berusaha menguatkannya dalam diri? Akhirnya,
kita terus bimbang dan takut kepada setiap yang melintas. Padahal itu bukan
sifat Islam. Islam agama yang ke hadapan, misi dan intinya sentiasa
disebarkan.
Sehingga Allah menyebut: (maksudnya):“Dan jika seseorang dari
kalangan musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka berilah perlindungan
kepadanya sehingga dia sempat mendengar keterangan-keterangan Allah (tentang
hakikat Islam itu), kemudian hantarlah dia ke tempat yang selamat. Demikian itu
(perintah tersebut) ialah kerana mereka itu kaum yang tidak mengetahui (hakikat
Islam). (Surah al-Taubah ayat 6).
Ada orang tertentu yang berkata kepada
saya: nanti orang Islam keliru kerana sebutan nama Allah itu sama antara mereka
dan Islam. Lalu rosak akidah orang Islam kita nanti. Saya berkata kepadanya:
“Jikalaulah sebutan nama tuhan itulah yang menentukan akidah Islam, tentulah
golongan musyrikin Mekah tidak memerlukan akidah yang dibawa oleh Nabi s.a.w.
Mereka telah sekian lama memanggil tuhan dengan panggilan Allah.
Lihatlah
bapa Nabi kita Muhammad bernama ‘Abdullah yang bermaksud hamba Allah. Tentu
sekali bapa baginda lahir pada zaman jahiliah sebelum kemunculan baginda sebagai
rasul. Nama itu dipilih oleh datuk Abdul Muttalib yang menjadi pemimpin Quraish
pada zaman dahulu. Quraish pada zaman jahiliah juga bertawaf dengan menyebut:
LabbaikalLahhumma yang bermaksud: Menyahut seruanMu ya Allah!
Al-Imam Muslim
dalam sahihnya meriwayatkan hadis mengenai perjanjian Hudaibiah antara Nabi
s.a.w dengan Quraish Mekah, seperti berikut:
“Sesungguhnya Quraish membuat
perjanjian damai dengan Nabi s.a.w. Antara wakil Quraish ialah Suhail bin ‘Amr.
Sabda Nabi s.a.w : barangkali aku boleh tulis Bismillahirrahmanirrahim. Kata
Suhail: Adapun Bismillah (dengan nama Allah), maka kami tidak tahu apa itu
Bismillahirrahmanirrahim. Maka tulislah apa yang kami tahu iaitu BismikalLahumma
(dengan namaMu Ya Allah!)”. Dalam riwayat al-Bukhari, Nabi s.a.w menerima
bantahan tersebut. Ternyata mereka menggunakan nama Allah.
Maka yang
membezakan akidah Islam dan selainnya adalah tauhid yang tulus yang menentang
segala unsur syirik. Ketidak jelasan dalam persoalan inilah yang menggugat
akidah jenerasi kita. Mereka yang berakidah dengan akidah Islam sangat sensitif
kepada sebarang unsur syirk agar tidak menyentuh akidahnya. Bukan semua yang
mengakui Allah akan dianggap beriman dengan iman yang sah selagi dia tidak
membersihkan diri dari segala unsur syirik.
Lihat, betapa ramai yang memakai
serban dan jubah, berzikir sakan tetapi dalam masa yang sama menyembah
kubur-kubur tok wali tertentu dengan cara menyeru dan merintih pemohonan
darinya. Ini yang dilakukan oleh sesetengah tarekat yang sesat. Apa beza mereka
ini dengan yang memanggil nama-nama berhala yang asalnya dari nama orang-orang
saleh juga, yang mati pada zaman dahulu.
Firman Allah: (maksudnya) Ingatlah!
Untuk Allah agama yang suci bersih (dari segala rupa syirik). dan orang-orang
musyrik yang mengambil selain dari Allah untuk menjadi pelindung (sambil
berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami
kepada Allah sehampir-hampirnya. Sesungguhnya Allah akan menghukum antara mereka
tentang apa yang mereka berselisihan padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi
hidayah petunjuk kepada orang-orang yang tetap berdusta (mengatakan Yang
bukan-bukan), lagi sentiasa kufur (dengan melakukan syirik). (Surah al-Zumar
ayat 3).
Di Malaysia kita pun ada yang memakai gelaran agama menentang
pengajaran tauhid rububiyyah, uluhiyyah, asma dan sifat. Mereka ini menyimpan
agenda musuh-musuh dakwah. Padahal pengajaran tauhid yang sedemikianlah yang
mampu menjadikan muslim memahami dengan mudah hakikat tauhid. Mampu membezakan
antara; sekadar mempercayai kewujudan Allah dengan mentauhidkan Allah dalam
zatNya, ibadah kepadaNya dan sifat-sifatNya.
Persoalan tauhid anti syirik ini
begitu mudah dan ringkas untuk memahaminya. Nabi s.a.w telah menyebarkannya
dengan begitu pantas dan mudah. Seorang badawi buta huruf yang datang berjumpa
baginda mampu memahami hanya dalam beberapa sessi ringkas. Bahkan mampu pulang
dan mengislamkan seluruh kaumnya dengan akidah yang teguh. Namun, di kalangan
kita, pengajaran akidah yang dinamakan ilmu kalam begitu berfalsafah dan
menyusahkan.
Bukan sahaja badwi, orang universiti pun susah nak faham.
Sehingga seseorang bukan bertambah iman, tetapi bertambah serabut.
Bertahun-tahun masih dalam kesamaran. Diajar Allah ada, lawannya tiada, dengar
lawannya pekak, lihat lawannya buta..lalu ditokok tambah dengan
falsafah-falsafah dan konsep-konsep yang menyusahkan. Padahal penganut agama
lain juga menyatakan tuhan itu ada, melihat, tidak buta, mendengar, tidak pekak
dan seterusnya. Apa bezanya jika sekadar memahami perkara tersebut cuma?
Maka
anak-anak orang Islam kita gagal memahami hakikat tauhid anti-syirik yang
sebenar. Padahal ianya begitu mudah semudah memahami kalimah-kalimah akidah
dalam surah al-Ikhlas yang ringkas. Kata Dr Yusuf al-Qaradawi: “Tambahan pula,
perbahasan ilmu kalam, sekalipun mendalam dan kepenatan akal untuk memahami dan
menguasainya, ia bukannya akidah…Lebih daripada itu perbahasan ilmu kalam telah
terpengaruh dengan pemikiran Yunan dan cara Yunan dalam menyelesaikan masalah
akidah. Justeru itu imam-imam salaf mengutuk ilmu kalam dan ahlinya serta
berkeras terhadap mereka” (Al-Qaradawi, Thaqafah al-Da’iyah, m.s. 92 Beirut:
Muassasah al-Risalat). Dahulu kelemahan ini mungkin tidak dirasa, tetapi apabila
kita hidup dalam dunia persaingan, kita mula menderitai kesannya.
Jika akidah
jenerasi kita jelas, apakah mereka boleh keliru antara ajaran Islam dan
Kristian? Adakah mereka tidak tahu beza antara ajaran yang menyebut tuhan bapa,
tuhan anak dan ruhul qudus dengan akidah Islam yang anti-syirik, hanya
disebabkan adanya sebutan Allah? Begitu jauh sekali perbezaan itu! Bagaimana
mungkin sehingga mereka tidak dapat membezakan antara malam dan siang? Apakah
juga nanti kita tidak membenarkan pihak lain menyebut nama nabi Ibrahim, Ishak,
Ya’kub, Daud dan lain-lain kerana budak-budak kita akan keliru lagi. Akidah
apakah yang mereka belajar selama ini di KAFA, JQAF dan berbagai lagi sehingga
begitu corot. Kalau begitu, sama ada sukatan itu lemah, atau tenaga pengajarnya
perlu dibetulkan.
Maka sebenarnya, isu ini adalah isu kelemahan kita umat
Islam dalam memahami akidah yang sebenar. Jenerasi kita tidak mempunyai benteng
akidah yang kukuh. Lalu kita semua bimbang mereka keliru dengan akidah orang
lain. Untuk mengatasi masalah ini, kita cuba mengambil pendekatan undang-undang.
Agar dengan halangan undang-undang, kelemahan akidah generasi kita dapat
dipertahankan.
Persoalan yang patut kita fikirkan, sehingga bilakah kita akan
mampu terus hidup hanya berbekalkan oksigen dari saluran undang-undang sehingga
kita yang majoriti, dengan segala peruntukan yang ada; TV, radio, berbagai-bagai
institusi dan agensi yang dilindungi, masih takut kepada gerakan minoriti? Di
manakah kehebatan Islam yang selalu kita sebut dan ceritakan sejarah
kegemilangannya? Atau sebenarnya, kita tidak memiliki Islam seperti hari ia
diturunkan? Maka kempen Islam kita selalu tidak berkesan.
Bagi saya, bukan
soal nama Allah itu yang terlalu perlu untuk direbut atau dijadikan agenda
besar. Tetapi, gerakan membina semula akidah yang sejahtera dan memahamkan
generasi kita wajah Islam yang sebenar agar mampu bersaing dan menghadapi
cabaran zaman.